Berikut Faktor yang Menyuburkan Ajaran Sesat seperti Kerajaan Ubur-Ubur

Sosiolog dari Universitas Ibnu Chaldun Jakarta, Musni Umar menilai, mudahnya masyarakat terpengaruh sebuah pemahaman baru tidak terlepas dari tekanan ekonomi dan sosial yang tengah dihadapi. Menurutnya, tekanan tersebut dengan sangat mudah mengubah pemikiran seseorang.
Warga di lingkungan Sayabulu RT 02/07, Kelurahan Serang, Kecamatan Serang, Kota Serang diresahkan adanya kegiatan sekelompok orang menamakan diri 'Kerajaan Ubur-Ubur'. Kerajaan yang dipimpin oleh pasangan suami istri itu diduga aliran sesat.
"Masyarakat kita ini kan menghadapi banyak sekali masalah. Masalah ekonomi, masalah sosial, masalah politik, jadi ketika ada orang yang tidak jelas tetapi bisa menghadirkan harapan baru, bisa memberi jalan, memberi kehidupan yang lebih baik kepada mereka ya masyarakat dengan sangat mudah mempercayainya,". Selain itu kata Musni, faktor lain yang membuat masyarakat mudah terpengaruh yakni masih lemahnya tingkat pendidikan masyarakat, baik dari segi formal maupun ilmu agama.
"Kemudian karena tingkat pendidikan masyarakat kita rendah itu mayoritas bukan hanya pendidikan formal yang rendah, tapi juga tingkat keimanan juga rendah. Mereka umumnya mengatakan beragama tetapi agama yang dianut ini tidak dipahami dengan baik. Jadi ketika ada yang menyampaikan kepada mereka dengan mudah mengikutinya," tuturnya.
Beban masyarakat mulai dari memenuhi kebutuhan sehari-hari dan maraknya pengangguran juga dituding menjadi penyebab utama. Sehingga kata Musni, pemahaman baru seperti yang belakangan heboh yakni 'kerajaan ubur-ubur' dapat dengan mudah diterima masyarakat.
"Banyak persoalan yang dihadapi ada yang kehidupan sehari-hari apa-apa mahal, susah mencari pekerjaan, apalagi ibu-ibu mengalami masalah kenaikan sembako jadi mereka membutuhkan harapan baru harapan inilah yang membuat mereka mudah mempercayainya," terangnya.
"Jadi ini sesungguhnya ini persoalan kehidupan yang lebih baik. Jadi kerajaan ubur-ubur itu menghadrikan harapan-harapan indah yang orang kemudian bertentangan dengan agama. Bagi orang yang susah itu juga mungkin dalam keadaan terpaksa mengikutinya karena ada harapan baru," sambung Musni.
Untuk menangkal itu Musni mengatakan, peningkatan pendidikan baik agama maupun dari segi formal terhadap masyarakat penting dilakukan. Di sisi lain mereka juga harus mendapat pekerjaan atau menciptakan lapangan kerja.
"Masyarakat umumnya kita ini kebanyakan menghabiskan waktu di luar bekerja, kumpul-kumpul akhirnya ada berita gosip mereka ikuti. Nah inilah tipikal masayrakat kita yang kita hadapi sekarang ini," ungkapnya.
Ia mengatakan, peranan pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama harus memiliki solusi untuk mengantisipasi hal itu. Menurutnya Kemenag harus turun tangan untuk mencegah hal tersebut tidak kembali terjadi.
"Kondisi seperti ini yang harus memang bertanggung jawa adalah mereka yang di beri amanah oleh pemeritnah termasuk Kemenag, Menurut saya kalo pegawai Kemenag harus punya tugas ganda setelah bekerja dia juga mengajarkan masyarakat, tentu itu memberi optimisme kepada mereka," tutupnya.

*Dragun
Share:

1 komentar:

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

Recent Posts